Ruksamin Berbaur dengan Masyarakat Baubau dalam Tradisi Kandekandea

Ketgam. Bupati Konut, Ruksamin saat mengikuti tradisi Kandekandea di Baubau. Foto: Istimewa
https://infofaktual.id/wp-content/uploads/2024/06/IMG-20240614-WA0082-1.jpg

INFOFAKTUAL.ID, BAUBAU – Usai mengikuti upacara peringatan Hari Jadi Ke-482 Baubau dan HUT Ke-22 Kota Baubau sebagai daerah otonom, Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin mengikuti tradisi Kande-kandea bersama masyarakat, Selasa (17/10/2023).

Ruksamin mengikuti acara Kande-kandea dalam rangka Haroa penganugerahan gelar adat dan syukuran, di pelataran Kantor Wali Kota Baubau.

Tradisi Kande-kandea merupakan tradisi makan bersama yang umum ditemukan pada masyarakat Buton. Di Kabupaten Buton, tiga etnis yang masih secara rutin melaksanakan tradisi ini adalah etnis Cia-Cia, Muna (Pancana), dan Wolio.

Masing-masing etnis memberikan penamaan yang berbeda atas tradisi ini, seperti Kafoma-Foma’a bagi etnis Muna (Pancana), Maataa bagi etnis Cia-Cia, dan Peka Kande-Kandea bagi etnis Wolio.

Ketgam. Ruksamin saat menghadiri kegiatan Kandekandea di Baubau. Foto: Istimewa

Secara umum, tradisi Kande-kandea melibatkan unsur hiburan dan ritual, serta terdapat interaksi sosial, politik, dan budaya di dalamnya.

Pada zaman dulu, tradisi ini menjadi cara untuk menyambut pulangnya para laskar Kesultanan Buton dari medan perang. Para gadis bersiap dengan makanan untuk menyuapkannya ke para anggota laskar yang lelah sebagai penghargaan atas perjuangan mereka.

Acara Kande-Kandea juga menjadi tempat pertemuan muda-mudi, dimana remaja putra dan putri dapat saling pandang. Kini, tradisi Kande-Kandea masih hidup dan menjadi simbol kesatuan sosial dan mistis masyarakat Buton.

Namun, tradisi ini juga diatur oleh dua kekuatan yang berbeda, yaitu negara dan adat. Bagi masyarakat adat Baruta Analalaki, acara Kande-Kandea dilaksanakan secara sederhana, bersifat ritual, dan dilaksanakan secara tertutup di rumah adatnya.

Ketgam. Ruksamin berbaur dengan tokoh adat dan masyarakat dalam kegiatan Kandekandea di Baubau. Foto: Istimewa

Tradisi Kande-kandea Kabolosi yang dilakukan oleh masyarakat adat Baruta Analalaki hanya dapat dihadiri oleh masyarakat adat dari beberapa desa, yaitu Desa Tolandona, Baruta Analalaki, Baruta, dan Tampuna. Konon, mereka merupakan kelompok masyarakat bangsawan Buton yang berada di wilayah pesisir.

Konsep ritual Kande-kandea Kabolosi adalah masyarakat mempersembahkan makanan kepada arwah leluhur dan dimakan secara bersama-sama, seperti slametan pada masyarakat Jawa.

Tradisi Kande-kandea Kabolosi meliputi lima rangkaian ritual yaitu ziarah Fompua dan Dampu, powintahano lima, Kande-Kandeano Fompu’a, Kande-Kandeano Kabolosi, dan Kadandio.

Meskipun diatur oleh dua kekuatan yang berbeda, tradisi Kande-kandea masih menjadi warisan budaya yang penting bagi masyarakat Buton.

Ketgam. Ruksamin bersama para tokoh adat di Baubau. Foto: Istimewa

Tradisi ini tidak hanya melibatkan makanan, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosial, politik, dan mistis yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Buton.

Ruksamin kepada awak media, memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemkot Baubau dan masyarakat. Menurutnya, ini sebuah kehormatan baginya, dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Bupati Konut dua periode itu mengatakan, masyarakat harus berbangga atas jasa dan pengabdian tulus para pendahulu yang telah meletakkan pondasi kota Baubau, sehingga kini menjadi kota yang sejuk, dengan penuh kedamaian.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat Hari Jadi Pemerintah Kota Bau-Bau yang ke-22 tahun sebagai daerah otonom. Landasan dan pondasi agar dipertahankan dan untuk terus diperjuangkan ke arah yang lebih baik bagi kesejahteraan masyarakat kota Baubau,” tutupnya. (Red)

Editor: Redaksi
error: Content is protected !!