Budaya  

Sarasehan Budaya Benteng Keraton Wolio: Menjaga Warisan Dunia dan Identitas Buton

Ketgam. Kegiatan Sarasehan Budaya pelestarian kawasan cagar budaya Benteng Keraton Wolio Buton, Sabtu (27/12/2025). Foto: MN/PPID Diskominfo Baubau.
https://infofaktual.id/wp-content/uploads/2024/06/IMG-20240614-WA0082-1.jpg

INFOFAKTUAL.ID, BAUBAU – Upaya menjaga marwah sejarah dan identitas budaya Buton, ditegaskan melalui Sarasehan Budaya Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Benteng Keraton Wolio yang digelar Lingkar Studi Sipanjonga (Linsis) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau.

Kegiatan ini berlangsung di Baruga Keraton Wolio, Sabtu (27/12/2025), menjadi ruang strategis mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pelestarian budaya.

Sarasehan dibuka secara resmi oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darus Salam, S.Sos., M.Si., serta dihadiri Ketua DPRD Kota Baubau, unsur Forkopimda, Sultan Buton selaku representasi Lembaga Adat Kesultanan Buton, para akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga peserta sarasehan dari berbagai latar belakang.

Dalam sambutannya, La Ode Darus Salam menegaskan, sarasehan ini digelar untuk menyelaraskan pemahaman dan strategi bersama, dalam melestarikan kawasan Benteng Keraton Wolio sebagai cagar budaya bernilai tinggi, sekaligus kebanggaan nasional.

Ia menekankan bahwa Benteng Keraton Wolio bukan sekadar bangunan fisik dari susunan batu karang yang direkatkan putih telur. Lebih dari itu, benteng tersebut merupakan manifestasi kecerdasan geopolitik, keteguhan iman, serta simbol kemandirian bangsa Buton di masa lampau.

“Sebagai benteng terluas di dunia, Benteng Keraton Wolio bukan hanya milik masyarakat Baubau, tetapi telah menjadi warisan dunia yang harus dijaga marwah dan keasliannya,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa tantangan pelestarian saat ini semakin kompleks. Arus modernisasi, tekanan permukiman, serta faktor alam menjadi ancaman nyata terhadap keutuhan dan kelestarian kawasan cagar budaya tersebut.

Melalui sarasehan ini, La Ode Darus Salam berharap tercipta keselarasan persepsi antara regulasi pemerintah, kebutuhan masyarakat yang bermukim di dalam kawasan benteng, serta pakem adat yang berlaku.

“Forum ini menjadi ruang penting untuk menyatukan pandangan, agar pelestarian tidak saling menegasikan, melainkan saling menguatkan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam pelestarian, yakni bagaimana menjaga nilai historis tanpa menjadikan cagar budaya sebagai ruang yang kaku dan mati. Menurutnya, revitalisasi harus mampu menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat tanpa merusak nilai sejarah dan adat yang melekat.

Selain itu, edukasi kepada generasi muda menjadi kunci utama agar nilai-nilai luhur Buton, seperti Pobinci-binci Kuli dan filosofi Bolimo Karo Somanamo Lipu, tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.

Menutup sambutannya, La Ode Darus Salam menitipkan pesan kepada seluruh peserta sarasehan, khususnya dinas terkait dan pemerhati budaya, agar forum ini tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi melahirkan rekomendasi konkret dan dapat ditindaklanjuti.

“Kita tidak ingin cagar budaya hanya menjadi monumen mati. Benteng Keraton Wolio harus menjadi monumen hidup yang terus memancarkan nilai luhur Buton kepada dunia,” pungkasnya. (Red)

Editor: Redaksi
error: Content is protected !!