INFOFAKTUAL.ID, KENDARI — Persoalan banjir, drainase tersumbat, hingga jalan gelap yang rawan kejahatan, akhirnya “meledak” di forum reses Anggota DPRD Kota Kendari dari Fraksi PKS, La Yuli, digelar di Kelurahan Wundumbatu, Kecamatan Poasia, Jumat malam (6/2/2026).
Reses yang dihadiri Lurah Wundumbatu, para Ketua RW dan RT, tokoh masyarakat, serta puluhan warga itu, berubah menjadi ruang curhat kolektif warga yang sudah lama menahan keluhan, terkait minimnya perhatian pembangunan di wilayah mereka.
La Yuli menjelaskan bahwa reses merupakan kewajiban bagi setiap anggota DPRD, turun langsung ke masyarakat dan menyerap aspirasi mereka. Ia juga menekankan pentingnya reses sebagai sarana untuk mendapatkan informasi akurat dan relevan mengenai kebutuhan masyarakat.
Masalah banjir dan buruknya drainase menjadi isu paling panas dalam pertemuan tersebut. Warga mengeluhkan genangan air yang kerap melumpuhkan aktivitas, terutama saat hujan deras.
Menanggapi hal itu, La Yuli memastikan pihaknya akan mendorong normalisasi kali, serta penambahan drainase di RT 08 agar masalah banjir tidak terus berulang setiap tahun.
“Ini sudah kami usulkan dan akan dikawal supaya bisa dikerjakan tahun ini. Jangan sampai warga terus jadi korban banjir karena persoalan yang bisa dicegah,” ujarnya.
Tak hanya banjir, minimnya penerangan jalan juga menjadi sorotan tajam warga. Banyak ruas jalan di wilayah HBM, Perumnas, hingga Jalan Kijang disebut gelap gulita di malam hari, sehingga rawan kecelakaan dan tindak kriminal.
Menjawab keluhan itu, La Yuli berjanji akan memperjuangkan pembangunan lampu penerangan jalan di titik-titik rawan.
“Kami tidak ingin ada wilayah yang gelap dan membahayakan keselamatan warga. Lampu jalan ini soal rasa aman masyarakat,” katanya.
Meski mengakui belum semua usulan bisa langsung diakomodasi, La Yuli menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan aspirasi warga secara bertahap dan berkelanjutan. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak diam dan terus mengawal proses pembangunan.
“Kalau masyarakat diam, pembangunan bisa melenceng. Karena itu saya minta warga terus menyampaikan aspirasi dan ikut mengawasi,” pungkasnya.
Reses ini sekaligus menjadi bukti bahwa suara warga Wundumbatu tak lagi ingin hanya didengar, tetapi juga diterjemahkan menjadi aksi nyata di tingkat kebijakan kota.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk memperjuangkan aspirasi ini agar dapat direalisasikan dalam program-program pembangunan kota,” pungkasnya. (Red)



